Masjid Nurul Fallah

Masjid Nurul Fallah

Selasa, 27 Mei 2008


Penuntut Ilmu Harus Bertaqwa Kepada Allah, Menghormati Guru, Tunduk Kepada Kebenaran

PENUNTUT ILMU HARUS BERTAQWA KEPADA ALLAH TA’ALA

OlehAl-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Seorang penuntut ilmu harus bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di mana pun ia berada, juga harus senantiasa merasa diawasi oleh-Nya. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:"Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik."
[1]Juga sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam:"Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang bertaqwa, cukup, dan tersembunyi."
[2]PENUNTUT ILMU WAJIB MENGHORMATI GURU DAN BERTERIMA KASIH KEPADANYASeorang penuntut ilmu wajib menghormati ustadz (guru)nya yang telah mengajarnya, wajib beradab dengan adab yang mulia, juga harus berterima kasih kepada guru yang telah mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepadanya.Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:"Tidak termasuk golongan kami; orang yang tidak menghormati yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak seorang ulama"
[3]Syaikh al-‘Allamah ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullaah berkata, "Seorang penuntut ilmu harus memperbaiki adabnya terhadap gurunya, memuji Allah yang telah memudahkan baginya dengan memberikan kepadanya orang yang mengajarkannya dari kebodohannya, menghidupkannya dari kematian (hati)nya, membangunkannya dari tidurnya, serta mempergunakan setiap kesempatan untuk menimba ilmu darinya. Hendaklah ia memperbanyak do’a bagi gurunya, baik ketika ada maupun ketika tidak ada. Karena, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:"Barangsiapa telah berbuat kebaikan kepadamu, maka balaslah kebaikannya itu. Jika engkau tidak mendapati apa yang dapat membalas kebaikannya itu, maka berdo’alah untuknya hingga engkau menganggap bahwa engkau benar-benar telah membalas kebaikannya."
[4]Adakah kebaikan yang lebih agung daripada kebaikan ilmu? Padahal, setiap kebaikan itu akan terputus kecuali kebaikan ilmu, nasihat dan bimbingan.Setiap masalah yang dimanfaatkan oleh setiap manusia dan orang yang mengambil ilmu darinya, maka manfaatnya akan diperoleh oleh orang yang mengajarkannya dan juga penuntut ilmu dan orang lain. Sebab, hal itu adalah kebaikan yang senantiasa mengalir kepada pemiliknya."Syaikh as-Sa’di rahimahullaah melanjutkan, "Temanku telah mengabarkan kepadaku -ketika itu gurunya telah meninggal- ketika ia telah berfatwa dalam suatu masalah dalam ilmu faraaidh (ilmu waris) bahwa ia melihat gurunya dalam mimpi membaca di dalam kuburnya. Ia berkata, ‘Masalah si fulan yang engkau berfatwa mengenainya, pahalanya telah sampai kepadaku.’Ini adalah perkara yang telah dikenal dalam syari’at,"Barangsiapa membuat contoh yang baik, maka ia memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sampai hari Kiamat."
[5]TIDAK BOLEH MENYEMBUNYIKAN ILMUMenyembunyikan ilmu adalah satu sifat tercela yang disandang oleh Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani), yaitu mereka menyembunyikan kebenaran risalah Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam di dalam Kitab suci keduanya: Taurat dan Injil. Apabila seseorang mengetahui suatu ilmu, kemudian ada orang lain yang bertanya tentang ilmu tersebut maka ia harus menyampaikan ilmu tersebut kepadanya. Sebab apabila tidak dilakukan dan ia menyembunyikan ilmunya itu, ia terkena ancaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,"Barangsiapa yang ditanya tentang suatu ilmu lalu ia menyembunyikannya, maka ia akan di-belenggu pada hari Kiamat dengan tali kekang dari Neraka."
[6]Allah Ta’ala berfirman:"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknat." [Al-Baqarah: 159]Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullaah mengatakan, "Seorang penuntut ilmu hendaklah memberikan ilmunya kepada penuntut ilmu selainnya dan tidak menyembunyikan suatu ilmu pun karena ada larangan keras dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam terhadap perbuatan tersebut."
[7]Selain itu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memberikan perumpamaan bagi orang yang menyembunyikan ilmu dalam sabda beliau."Perumpamaan orang yang mempelajari ilmu kemudian tidak menceritakannya (tidak mendakwahkannya), seperti orang yang menyimpan perbendaharaan lalu tidak menginfakkannya."
[8]Ilmu yang dimaksud adalah ilmu yang berkaitan tentang apa yang wajib diketahui oleh setiap Muslim dari urusan agamanya.Selain itu, menyampaikan ilmu hanyalah kepada orang yang layak menerimanya. Adapun orang yang tidak layak menerima ilmu itu, maka boleh menyembunyikan ilmu darinya. Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Syakir rahimahullaah mengatakan, "Menyampaikan ilmu hukumnya wajib dan tidak boleh menyembunyikannya, namun mereka (para ulama) mengkhususkan hal itu bagi orang yang berkopetensi (layak) menerimanya. Diperbolehkan menyembunyikan ilmu kepada orang yang belum siap menerimanya, demikian juga kepada orang yang terus-menerus melakukan kesalahan setelah diberikan cara yang benar."
[9]PENUNTUT ILMU HARUS TUNDUK PADA KEBENARANMu’adz bin Jabal radhiyallaahu ‘anhu pernah berkata, "Allah Ta’ala adalah Hakim Yang Mahaadil dalam memberikan hukuman. Dia-lah Dzat yang Nama-Nya Mahatinggi. Dan orang-orang yang meragukan hal itu akan binasa."
[10]‘Abdurrahman bin ‘Abdillah bin Mas’ud rahimahullaah berkata, "Ada seseorang yang datang kepada ‘Abdullah bin Mas’ud seraya berkata, ‘Wahai Abu ‘Abdirrahman, beritahukan kepadaku kalimat yang simpel namun banyak mengandung manfaat!’ ‘Abdullah menjawab, ‘Jangan sekali-kali engkau menyekutukan Allah. Berjalanlah bersama Al-Qur-an kemana saja engkau pergi. Jika ada kebenaran yang datang kepadamu, janganlah segan-segan untuk menerimanya sekalipun kebenaran itu jauh letaknya dan tidak menyenangkan. Dan jika ada kebathilan yang datang kepadamu, tolaklah ia jauh-jauh sekalipun kebathilan itu sangat dekat letaknya dan sangat kausukai.’"
[11]Imam asy-Syafi’i rahimahullaah mengatakan, "Ketika aku meriwayatkan hadits shahih dari Rasulullah dan aku tidak menggunakannya, maka aku bersaksi pada kalian semua bahwa (sejak itulah) kewarasan akalku telah hilang."
[12]Beliau juga berkata, "Apabila ada seseorang yang mengingkari dan menolak kebenaran berada di hadapanku, maka aku tidak akan menaruh hormat lagi kepadanya. Dan barangsiapa yang menerima kebenaran, maka aku pun akan menghormati dan tanpa ragu akan mencintainya."
[13]Orang yang sombong adalah orang yang menolak kebenaran, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:"...Yang dikatakan sombong adalah menolak kebenaran dan melecehkan manusia."
[14][Disalin dari buku Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga "Panduan Menuntut Ilmu", Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, PO BOX 264 – Bogor 16001 Jawa Barat – Indonesia, Cetakan Pertama Rabi’uts Tsani 1428H/April 2007M]
[1]. Hadits hasan: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 1987), Ahmad (V/153, 158, 177), dan ad-Darimi (II/323), dari Abu Dzarr radhiyal-laahu ‘anhu. Diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi (no. 1987), Ahmad (V/236), dan ath-Thabrani dalam al-Ausath (no. 3791), dari Muadz bin Jabal radhiyallaahu ‘anhu.
[2]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2965) dan Ahmad (I/168), dari Shahabat Sa’ad bin Abi Waqqas radhiyallaahu ‘anhu.
[3]. Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ahmad (V/323) dan al-Hakim. Lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 5443).
[4] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (II/98-99), Abu Dawud (no. 1672), an-Nasa-i (V/82), al-Bukhari dalam Adabul Mufrad (no. 216), Ibnu Hibban (no. 3400-at-Ta’liqaatul Hisaan), al-Hakim (I/412, II/13), dan ath-Thayalisi (no. 2007), dari Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma. Lihat Silsilah ash-Shahiihah (no. 254).
[5]. Al-Mu’iin ‘ala Tash-hiih Adaab wa Akhlaaqil Muta’allimin (hal. 31-33).
[6]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3658), at-Tirmidzi (no. 2649), dan Ibnu Majah (no. 266), ini lafazh Ibnu Majah, dari Shahabat Abu Hurairah. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud (II/441), Shahih Sunan at-Tirmidzi (II/336, no. 2135), dan Shahih Sunan Ibni Majah (I/49, no. 213).
[7]. Lihat al-Baa’itsul Hatsiits (II/440).
[8]. Hadits hasan: Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Ausath (no. 693), dari Shahabt Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 3479).
[9]. Lihat al-Baa’itsul Hatsiits (II/440).
[10]. Siyar A’laamin Nubalaa’ (I/357).
[11]. Shifatush Shafwah (I/183), cet. II, Maktabah Nazar Musthafa al-Baaz, th. 1418 H.
[12]. Siyar A’laamin Nubalaa’ (X/34).
[13]. Ibid (X/33).
[14]. Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 91 (147)) dan at-Tirmidzi (no. 1999).

Jumat, 16 Mei 2008

ABDULLAH BIN SABA TOKOH FIKTIF??

Oleh: Abu Abdillah Muhammad Elvi Syam

Dakwaan yang mengatakan Abdullah bin Saba itu adalah tokoh fiktif, selalu
dielu-elukan oleh orang syi'ah modern dan orang orentalis, agar mereka bisa
diterima ditengah-temgah masyarakat. Dakwaan seperti ini bagaikan orang
yang mengingkari cahaya matahari ditengah siang bolong lagi cerah.
Marilah kita lihat apa pengakuan orang syiah terdahulu terhadap keberadaan
Abdullah bin Saba, sebagai bukti yang konkrit atas keberadaannya :
1) An Nasyi Al Akbar (293 H) mencantumkan tantang Ibnu Saba, dan
golongan As Sabaiyah, yang teksnya: "Dan suatu golongan yang mereka
mendakwahkan bahwa Ali 'alaihi salam masih hidup dan tidak pernah mati,
dan ia tidak akan mati sampai ia menghalau (mengumpulkan) orang arab
dengan tongkatnya, orang ini adalah As Sabaiyah, pengikut Abdullah bin
Saba. Dan adalah Abdullah bin Saba seorang laki-laki dari penduduk San'a,
seorang yahudi, telah masuk Islam lewat tangan Ali dan bermukim di Al
Madain…."1
2) Al Qummi (301 H), menyebutkan : "Sesungguhnya Abdullah bin Saba
adalah orang yang pertama sekali menampakkan celaan atas Abu Bakr,
Umar, dan Utsman, serta para sahabat, dan berlepas diri dari mereka. Dan ia
mendakwakan sesungguhnya Ali-lah yang memerintahkannya akan hal itu.
Dan sesungguhnya Taqiyah tidak boleh. Lalu Ali diberitahukan, lantas Alipun
menanyakannya akan hal itu, maka ia mengakuinya. Dan Ali memerintah
untuk membunuhnya, lalu orang-orang berteriak dari setiap penjuru : "Wahai
Amirul Mukminin apakah anda akan membunuh seorang yang mengajak
kepada mencintai kalian Ahli Bait, dan mengajak kepada setia kepadamu dan
berlepas diri dari musuh-musuhmu, maka biarkan dia pergi ke Al Madain"2
3) An Naubakhti (310H) menyetujui Al Qummi dalam memperkuat baritaberita
tentang Abdullah bin Saba, lalu ia menyebutkan satu contoh, yaitu
bahwasanya tatkala sampai kepada Abdullah bin Saba berita kematian Ali di
Madain, maka ia berkata kepada orang yang membawa berita itu : "Kamu
telah berdusta kalau seandainya kamu datang kepada kami dengan otaknya
sebanyak tujuh puluh kantong, dan kamu mendatangkan tujuh puluh saksi
atas kematiannya, maka sungguh kami telah mengetahui sesungguhnya dia
belum mati, dan tidak terbunuh, dan tidak akan mati sampai ia memiliki
bumi"3.

4) Al Kisysyi mencantumkan (dari tokoh-tokoh abad ke empat) beberapa
riwayat yang menegaskan hakikat Ibnu Saba, dan menerangkan kabar
beritanya, dan ini sebagiannya: "Telah menceritakan kepada saya
Muhammad bin Quluwiyah Al Qummi, ia berkata : telah menceritakan kepada
saya Sa'ad bin Abdillah bin Abi Khalaf Al Qummi, ia berkata telah
menceritakan kepada saya Muhammad bin Utsman Al Abdi dari Yunus
dengannya, Abdurrahman bin Abdillah bin Sinan telah berkata : telah
menceritakan kepada saya Abu Ja'far Alaihis Salam : sesungguhnya Abdullah
bin Saba, adalah orang yang mendakwakah kenabian, dan mendakwakan
bahwa sesungguhnya Amirul Mukminin alaihi salam, sebagai Allah, Maha
tinggi dari hal itu dengan ketinggian yang besar. Lalu berita itu sampai ke
Amiril mukminin alaihis salam, beliau menanyakannya, maka iapun mengakui
hal itu, dan berkata : Ya, engkau adalah Dia (Allah), dan sungguh telah
dibisikkan ke dalam hatiku, bahwasanya engkau adalah Allah, dan saya
adalah nabi. Lalu Amirul Mukminin berkata kepadanya : Celaka kamu,
sungguh syaitan telah menguasaimu, kembalilah kamu (kepada kebanaran)
dari ini, celaka ibumu, dan bertaubatlah. Maka iapun enggan (untuk
bertaubat), lalu beliau menahannya, dan memintanya agar bertaubat selama
tiga hari, namun belum juga bertaubat, lantas beliau membakarnya dengan
api, dan berkata : syaitan telah menguasainya, selalu mendatanginya dan
membisikkan ke dalam hatinya hal itu."4
5) Abu Hatim Ar Razi (322H) (bukan Abu Hatim Sunni karena ia meninggal th
277 H) menyebutkan bahwasanya Abdullah bin Saba dan orang-orang yang
mengikuti perkataannya dari kalangan As Sabaiyah, adalah mereka
mendakwakan sesungguhnya Ali adalah Tuhan dan beliau menghidupkan
orang mati, dan mendakwakah menghilangnya Ali setelah meninggal dunia
dan berhenti sebatas itu…5
6) Berkata syeikh golongan ini : Abu Ja'far Muhammad bin Al Hasan at Thuusi
(460 H) tentang Ibnu Saba, bahwa sesungguhnya ia telah kembali kepada
kekafiran dan menampakkan pujian yang melampaui batas, kemudian ia
menukilkan di kitabnya "Tahdziibul Ahkaam" sikap Ibnu Saba dimana ia
menantang Ali dalam mengangkat kedua tangan ke langit.6
7) Al Hasan bin Ali Al Hulliy (726 H) menyebutkan Abdullah bin Saba dari
golongan-golongan orang yang lemah (tercela).7
8) Adapun Ibnu Murtadha (Ahmad bin Yahya meninggal tahun 840 H) yang ia
itu adalah orang mu'tazilah dan menisbatkan dirinya ke Ahli Bait, dan
termasuk imam (tokoh) syi'ah Zaidiyah, maka dia tidak hanya memperkuat
keberadaan Ibnu saba, bahkan menegaskan bahwa sumber ajaran syiah
dinisbatkan kepada Abdullah bin Saba, karena ia adalah orang yang pertama
kali membuat perkataan adanya nas (ketetapan keimaman), dan perkataan
keimaman dua belas imam. 8
Ini adalah sebagian kecil dari nash-nash yang dikandung oleh buku-buku
syi'ah dan riwayat-riwayat mereka tentang Abdullah bin Saba, dan saya
sebutkan di riwayat-riwayat di atas tanpa komentar karena nas itu sendiri
sudah cukup untuk memberikan apa yang kita maksudkan di sini, nas-nas itu
boleh dikatakan dokumen-dokumen tertulis yang membantah orang-orang
dari kalangan syi'ah belakangan ini yang berusaha untuk mengingkari
keberadaan Abdullah bin Saba dan meragui kabar beritanya, dengan dalih
sedikitnya berita atau lemahnya sumber-sumber yang menceritakan.
Saif bin Umar At Tamimi
Menurut orang Syi'ah modern Abdulah Bin Saba' hanyalah tokoh fiktif ciptaan
Saif bin Umar Tamimi yang disebut pertama kali dalam bukunya berjudul al-
Futuh al Kabir wa ar Riddah dani al-jamal wamasiri Ali wa Aisyah (170 H).
Mereka juga mengatakan bahwa keberadaan Abdullah bin Saba' ini adalah
fiktif, dikarenakan hanya bersumber dari satu orang yaitu Saif At-Tamimi,
yang dinilai cacat (oleh ahli jarh wa ta’dil). Tertolaknya riwayat tentang
Abdullah bin Saba' bukan hanya karena dalam jalur periwayatannya terdapat
Saif At-Tamimi, melainkan bahwa Saif At-Tamimi merupakan sumber tunggal
tentang cerita keberadaan Abdullah bin Saba' yang dengan predikat
semacam itu maka sudah semestinya setiap kisah dari Saif At-Tamimi tidak
bisa dipercaya, baik dalam wacana syari'at maupun tarikh.
Perkataan tentang Saif bin Umar At Tamimi tersebut seakan mereka sedang
berusaha untuk menegakkan benang basah, dengan dalih Saif bin Umar At
Tamimi haditsnya tidak bisa diterima, maka saya katakan:
Kalau seandainya yang anda cantumkan dari perkataan ulama jarh wa ta’dil
tentang Saif bin Umar at Tamimi, bahwa lemah dan haditsnya tidak bisa
diterima maka pembicaraan anda terfokus pada Saif bin Umar At Tamimi
yang berkapasitas sebagai muhadits (ahli hadits dan yang meriwayatkan
hadits). Tapi apa gerangan perkataan ulama tentang dia sebagai orang yang
berkapasitas Ahli sejarah, marilah kita kembali ke buku-buku rijal (jarh wa
ta’dil):
Berkata Adz Dzahabi : “Adalah ia sebagai ahli sejarah yang mengetahui"
(Mizan 'Itidal : 2/255).
Berkata Ibnu Hajar : “Lemah dalam Hadits, pakar (rujukan) dalam sejarah"
(Taqriibut Tahdziib no 2724).
Dangan ini habislah "lemah dan ditinggalkan" yang dinisbatkan ke diri Saif
sebab perkataan itu ditujukan dalam segi Hadits bukan dalam segi sejarah.
Inilah titik pembahasan kita.

Perlu diketahui, kita harus membedakan antara meriwayatkan hadits dengan
yang meriwayatkan sejarah (kisah), maka atas yang pertama (riwayat hadits)
hukum-hukum dibangun dan ditegakkan, dilaksanakannya hudud, maka ia
berhubungan langsung dengan pokok syariat agama yaitu sunnah nabi, dan
sinilah ulama selalu sangat hati-hati menentukan syarat-syarat orang yang
akan diambil riwayatnya. Berbeda halnya dengan riwayat sejarah (kisah),
walaupun tak kalah penting -apalagi dalam mengisahkan sejarah sahabatakan
tetapi tidak melahirkan hukum-hukum yang lazim dari ajaran agama,
karena perkataan seseorang itu bisa dipakai dan dibuang kecuali perkataan
penghuni kubur ini (yaitu Nabi) sebagaimana kata Imam Malik. Sebab semua
perkataan nabi menjadi syariat bagi kita, semua yang shahih harus diambil
dan tidak boleh ditinggalkan.
Sebagai argumen yang memperkuat perkataan kita bahwa Saif bin Umar at
Tamimi ini adalah umdah, pokok, dan tempat bersandar dalam masalah
sejarah, diantaranya:
1) Bahwa Imam Thobari menukil darinya kejadian-kejadian fitnah lebih
banyak daripada yang lain, sampai-sampai ia berpatokkan kepadanya.
(lihat At Thobari :4/344).
2) Kemudian Adz Dzahabi menjadikan Saif adalah salah satu sumber yang
dipegangnya dalam kitabnya Tarikhul Islam. (lihat tarikhul Islam : 1/14,15).
3) Adapun Ibnu Katsir ia lebih cenderung untuk menshahihkan riwayat Saif
dalam kronologi terbunuhnya Utsman, walaupun ia mencatumkan lebih
dari satu riwayat dalam bab itu, perlu diketahui bahwa di bab itu ada
riwayat Khalifah bin Khayat (salah seorang guru Bukhari) dan riwayatnya
lebih kuat dari riwayat Saif. (lihat bidayah wan nihayah : 7/203).
Dari pandangan ahli sejarah yang terdahulu kita meninjau pendapat ahli
sejarah masa kini tentang Saif bin Umar At Tamimi :
Muhibbuddin Al Kahthib berkata tentang Saif : “. Dan beliau adalah ahli
sejarah yang paling mengetahui tetang sejarah Iraq"
Dan darinya dari guru-gurunya ia berkata : “dan ia orang yang lebih
mengetahui dari kalangan ahli sejarah tetang kejadian di Iraq. “
Berkata Ahmad Ratib 'Armusy : “dan jelas dari referensi buku-buku biografi,
bahwa sesungguhnya Saif tidak termasuk perowi hadits yang diandalkan
(dipercayai), akan tetapi pengarang-pengarang buku biografi itu sepakat
bahwa dia adalah pakar / pemimpin dalam sejarah, bahwasanya dia itu
adalah ahli sejarah yang mengetahui, dan sungguhn At Thobari telah
bersandar kepadanya dalam kejadian-kejadian di masa permulaan Islam.”
[lihat buku Fitnah wa waqi'atul Jamal, hal : 27]
Adapun Dr. Ammar At Tholibi mengisyaratkan bahwa Saif adalah termasuk
ahli sejarah yang terdahulu, karena ia meninggal pada zaman pemerintahan
Ar Rasyid (193 H) setelah tahun 170 H. dan dari segi lain ia merupakan rijal
Tirmizi (279 H) -orang-orang yang melaluinya Tirmizi meriwayatkan hadits-,
dan ia (Tirmizi) belum menyanggah riwayatnya akan perowi lain. Dan tidak
seorangpun dari kalangan ahli hadits dan ahli sejarah yang membantah
khabarnya (riwayatnya) khususnya berhubungan dengan Ibnu Saba.9
Kita tambahkan lagi di sini bahwa sesungguhnya orang-orang yang
menghukum Saif itu lemah (dalam hadits), dan berbicara tentang dirinya,
mereka meyebutkan Ibnu saba, dan mereka tidak mengingkarinya, seperti :
Ibnu Hibban (Al Majruhiin 1/208 dan 2/253), Adz Dzahabi (Al Mughni fi
Du'afaa' 1/399 dan di Mizanul 'Itidal 2/426) dan Ibnu Hajar (Lisanul Mizan
3/290).
Dengan demikian dapatlah kita memastikan bahwa Abdullah bin Saba,
bukanlah tokoh fiktif akan tetapi adalah tokoh yang ada realitanya, dan
terbukti ia itu ada. Hal itu telah disaksikan sendiri oleh buku-buku syiah
terdahulu yang menjadi pegangan mereka. Dan sesungguhnya orang yang
berusaha mengkaburkan dan mengingkari keberadaan Abdullah bin Saba,
sama dengan orang yang mengingkari cahaya matahari pada siang bolong
yang terang benderang. Dan sama dengan orang yang mengingkari
keberadaan Khumaini celaka yang telah meninggal.


1 Masailul Imaamah Wa Muqtathofaat minil kitabil Ausath fil Maqalat / ditahqiq oleh Yusuf Faan As, (Bairut 1971)
hal : 22, 23
2 Al Maqaalat wal Firaq, hal : 20. Diedit dan dikomenteri ser ta kata pengantar oleh Dr. Muhammad Jawad
Masykur, diterbitkan oleh Muasasah Mathbu'ati 'athani, Teheran 1963
3 Firaqus Syi'ah : hal : 23. oleh Abu Muhammad Al Hasan bin Musa An Naubakhti, ditashhih oleh H. Raiter,
Istambul, percetakan Ad Daulah, 1931


4 Al Kisysyi : Rajalul Kasysyi hal : 98, 99, Ma'rifatu Akhbaarir Rijaal (al mathba'ah al musthafawiyah 1317) hal : 70
5 Az Zinah Fil Kalimaatil Islamiyah Al 'Arabiyah, hal : 305. ditahqiq oleh DR. Abdullah bin Salum As Samiraai
(terbitan Daarul Huriyah litaba'ah, di baghdad 1392 H / 1972)
6 At Thuusi "Tahdziibul Ahkaam" (diterbitkan oleh Darul Kutub Al Islamiyah / Teheran, cetakan ke dua) dita'liq oleh
Hasan AL Musawi, 2/322
7 Ar Rijaal ( cetakan AL Haidariyah / An Najfah 1392 H) : 2/71


8 Tabaqatul Mu'tizilah (diterbitkan oleh Faranz Syatain / cetakan Al Katolikiyah / Bairut hal : 5 dan 6) dan lihat juga
Dirasaat fil firaq wa aqaidil Islamiyah (diterbitkan oleh Penerbit Irsayd Baghdad) hal : 5